salam kenal... buat yang belum kenal. menulis bagi saya adalah obat. berbagi banyak hal, semoga tulisan yang ada di dalam blog dapat menginspirasi bagi yang membacanya
Rabu, 09 Maret 2016
Jilbab
Jilbab, siapa yang tidak mengenal pakaian muslimah yang satu ini. Aneka model dan corak bisa di temukan dengan mudah. Dari balita hingga lansia mengenakannya. Ketika muslimah dengan bangga mengenakan pakaian yang menggambarkan identitas diri, kita perlu memberi apresiasi. Hanya saja, akhir-akhir ini saya di landa gelisah,kecewa terkadang menggerutu di dalam dada. Jilbab lambang muslimah itu adalah satu dari sekian fungsi lainnya. Agar tidak di ganggu juga fungsi jilbab, bagaimana jika kita temui banyak muslimah yang berjilbab tetapi sengaja menarik perhatian agar di ganggu? bagaimana pula fenomena remaja berjilbab dengan enteng mengumbar kemesraan bersama lawan jenis, hal ini membuktikan bukan hanya menarik perhatian tetapi merelakan untuk di ganggu.
Sedih, ketika wanita muslimah mengenakan jilbab tetapi melupakan fungsi-fungsinya. Hijab di jadikan mode pakaian agar di anggap kekinian. Lekuk tubuh dengan bangga di perlihatkan, fungsi jilbab di abaikan. Saya berharap, semakin tinggi kesadaran muslimah untuk berjilbab semoga seiring sejalan dengan pemahaman tentang jilbab. Jilbab tidak hanya sebagai mode, melainkan melukiskan identitas muslimah secara untuh. Semoga Jilbab syar'i yang di kenakan menggambarkan pengetahuan perihal jilbab.
Senin, 07 Maret 2016
Tanda Tanya (?)
Tulisan ini menjawab tantangan minggu kedua di bulan Maret,
perkenalan. Tak kenal maka tak sayang (klasik
banget). Nama asli saya sebenarnya Rukdamayanti, lahir di Siney 27 November
1993. Jadi Adiba nama inisial, mengapa mengganti Ruk menjadi Adiba?
10 Oktober 2015, saya menyelesaikan studi di Akademi Teknik
Industri Makassar sekarang berganti nama menjadi Poltek ATI Makassar. Menempuh
pendidikan selama kurang lebih tiga tahun, di kota Makassar (yailah, di kota
Makassar emang dimana lagi?). Mengambil jurusan Teknik dan Menejem Industri
konsentrasi Pangan. 2 Maret 2016, saya menandatangi kontrak kerja sebagai
Tenaga Penyuluh Lapangan. Kedengaran sih enak, selesai kuliah langsung kerja
sebenarnya nggak juga. September 2012 lupa tepatnya tanggal berapa, bermodal
ijazah dan keberuntungan selama sekolah tingkat menengah atas, saya mendapatkan
beasiswa program Kementrian Perindustrian RI. Selama 3 tahun mengkuti masa
pendidikan dan dua tahun sebagai Tenaga Penyuluh Lapangan. Saya telah melewati
masa pendidikan, sisanya melanjutkan tugas balas jasa. Setelah itu ngapain?
Kabupaten sigi, domisili saya saat ini, kabupaten yang berada
di wilayah selatan kota Palu Sulawesi Tengah. Menyinggung soal Sigi, menurut
iklan yang sering saya dengarkan di radio, Sigi merupakan salah satu daerah startegis untuk menyaksikan
Gerhana Matahari Total pada tanggal 9 Maret 2016. (kapan-kapan aja yah cerita
GMTnya, lagi perkenan nih).
Selain sebagai Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL), aktivitas
saya lain adalah wirausaha. Sibuk merajut
kata, saya juga sibuk merajut tali temali menjadi tas. Kata orang-orang bijak,
jika ingin jadi ahli, tetapkan satu pilihan lalu tekuni. Untuk memilih merajut
kata atau merajut tali, sebenarnya saya memilih rajut kata, tetapi tidak bisa
meninggalkan rajut tali begitu saja (Nah loh?). karena dari rajut-merajut
talilah saya mendapatkan pundi-pundi rupiah, hingga bisa nulis di ODOP 2, semua
karena bantuan rajut tali, rela membiayai tagihan paket data bulanan (saya
nggak bisa berkhianat). Kedua-keduanya butuh fokus yang ekstra, rajut tali
nggak sehari dua hari pun demikian dengan rajut kata. (kenapa jadi Curcol?).
Tulisan perkenalan saya, tiap paragraf sepertinya
meninggalkan tanda tanya di benak pembaca. Baiklah semoga besok-besok saya bisa
menjawabnya.
Jumat, 04 Maret 2016
Semoga Allah menggantikannya dengan yang lebih baik
Semoga Allah menggantikannya dengan yang lebih baik
Saat kita memilih meninggalkan someone special, "pacar" karena Allah. Harapan kita, semoga Allah menggantikannya dengan yang lebih baik.
Maksud lebih baik, bukan dapat pacar yang lebih tampan, lebih tajir, lebih kece, lebih dari sebelumnya.
Lebih baik dalam artian baik menurut Allah bukan baik menurut manusia.
Kita memilih mematuhi aturan-Nya, demi mendapatkan Ridha-Nya.
Tidak mudah, bukan berarti kita abai, tidak peduli. Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya adalah kewajiban seorang hamba.
Terkadang kita mengeluh, sibuk bertanya, mengapa Allah belum juga memenuhi pinta kita. Pacar yang perhatian, peduli, atau bertanya kenapa Allah tak kunjung memberi pacar.
Kita terlalu sibuk meminta, hingga kita lalai bersyukur. Allah selalu memberi bahkan sesuatu yang tidak pernah kita minta.
Pernahkah kita meminta agar di beri nafas, jantung terus berdetak, nadi tak henti berdenyut.
Berdiri kokoh dengan kedua kaki, menggenggam kuat dengan kedua tangan, melihat keindahan dunia dengan kedua mata, mengecap aneka rasa makanan dan minuman dengan lidah. Berucap ribuan kata dengan mulut.
Pernah kah kita meminta?
Lalu, merengek-rengek meminta agar bisa berpacaran, atas nama cinta yang sebenarnya hanyalah nafsu.
Terkadang mengambil keputusan, lagi-lagi atas nama cinta yang sebenarnya hanyalah nafsu.
Sunset menawan di sore hari akan menjadi saksi dua sejoli yang tengah di mabuk asmara. Langit, bulan, bintang-gemintang dan malam kan menjadi saksi sepasang kekasih bertemu melepas rindu. Saksi di hari kemudian.
Tinggalkan jika benar mencintai-Nya. Tinggalkan, semoga Allah menggantikannya dengan yang lebih baik.
*Adiba Damayanti
Saat kita memilih meninggalkan someone special, "pacar" karena Allah. Harapan kita, semoga Allah menggantikannya dengan yang lebih baik.
Maksud lebih baik, bukan dapat pacar yang lebih tampan, lebih tajir, lebih kece, lebih dari sebelumnya.
Lebih baik dalam artian baik menurut Allah bukan baik menurut manusia.
Kita memilih mematuhi aturan-Nya, demi mendapatkan Ridha-Nya.
Tidak mudah, bukan berarti kita abai, tidak peduli. Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya adalah kewajiban seorang hamba.
Terkadang kita mengeluh, sibuk bertanya, mengapa Allah belum juga memenuhi pinta kita. Pacar yang perhatian, peduli, atau bertanya kenapa Allah tak kunjung memberi pacar.
Kita terlalu sibuk meminta, hingga kita lalai bersyukur. Allah selalu memberi bahkan sesuatu yang tidak pernah kita minta.
Pernahkah kita meminta agar di beri nafas, jantung terus berdetak, nadi tak henti berdenyut.
Berdiri kokoh dengan kedua kaki, menggenggam kuat dengan kedua tangan, melihat keindahan dunia dengan kedua mata, mengecap aneka rasa makanan dan minuman dengan lidah. Berucap ribuan kata dengan mulut.
Pernah kah kita meminta?
Lalu, merengek-rengek meminta agar bisa berpacaran, atas nama cinta yang sebenarnya hanyalah nafsu.
Terkadang mengambil keputusan, lagi-lagi atas nama cinta yang sebenarnya hanyalah nafsu.
Sunset menawan di sore hari akan menjadi saksi dua sejoli yang tengah di mabuk asmara. Langit, bulan, bintang-gemintang dan malam kan menjadi saksi sepasang kekasih bertemu melepas rindu. Saksi di hari kemudian.
Tinggalkan jika benar mencintai-Nya. Tinggalkan, semoga Allah menggantikannya dengan yang lebih baik.
*Adiba Damayanti
Halalkan atau Ikhlaskan
Lupakan semua tentang kita.
Tentang aku dan kamu.
Cinta bukan berapa banyak kata mesra yang terucap.
Cinta bukan seberapa romantis ketika bersua.
Halalkan atau ikhlaskan
Lupakan semua tentang kita.
Semua kenangan yang terlewati.
Cinta perlu pembuktian, tidak perlu janji tapi bukti.
Cinta tidak hanya berani bertemu orang tua,
tetapi seberapa berani kamu bertanggungjawab pada Tuhan.
Halalkan atau ikhlaskan..
Cinta tidak harus memiliki,
Maju untuk menghalkan atau mundur untuk mengikhlaskan.
Tentang aku dan kamu.
Cinta bukan berapa banyak kata mesra yang terucap.
Cinta bukan seberapa romantis ketika bersua.
Halalkan atau ikhlaskan
Lupakan semua tentang kita.
Semua kenangan yang terlewati.
Cinta perlu pembuktian, tidak perlu janji tapi bukti.
Cinta tidak hanya berani bertemu orang tua,
tetapi seberapa berani kamu bertanggungjawab pada Tuhan.
Halalkan atau ikhlaskan..
Cinta tidak harus memiliki,
Maju untuk menghalkan atau mundur untuk mengikhlaskan.
Rabu, 02 Maret 2016
Merenda mimpi bersama ODOP 2
Menjadi penulis bermartabat, berkualitas dan berkelas, memerlukan proses yang panjang, tekun dan tidak boleh menyerah. Menulis tidak jauh beda dengan keterampilan lainnya, seperti halnya memasak butuh kesabaran untuk menghasilkan makanan yang lezat. Tidak cukup dengan modal saya suka menulis, saya mau jadi penulis, bakat saya menulis, tapi tidak pernah menulis, apakah tulisan langsung tersaji di depan mata. Tidak ada yang instan, bahkan mie instan saja yang namanya instan, butuh proses agar bisa melahapnya.
Sayangnya, empat kalimat di atas semata-mata teori yang menempel di batok kepala saya istilah bekennya ngomdo (ngomong doang), realisasinya nol. Bersyukurnya, saat saya banyak cakap Allah gerakan tangan hamba-Nya yang mualaas ini membuka Facebook. Disanalah saya menemukan tulisan bang Syaiha tentang One Day One Post 1. Wah bagus banget nih... cocok buat saya, tapi sayang seratus kali sayang pendaftarannya sudah lama di tutup. Nyesel juga kenapa baru sempat baca, kemana aja selama ini (tepok jidat), tapi sebagai seorang muslim nggak boleh putus asa, di syukuri, meski tidak jadi anggota ODOP, sempat baca itu sudah sesuatu banget. Teringatlah saya pada ayat di al-qur’an, “Barang siapa bersyukur maka akan di tambah nikmatnya, dan siapa yang tidak bersyukur, sesungguhnya azab Allah sangat pedih”. Nah dari pada di azab, mending bersyukur, kalau jodoh pasti bertemu. Saya berharap, semoga bang Syaiha tergerak hatinya membuka pendaftaran One Day One Post 2.
Di bulan februari harapan saya berbalas, pendaftaran One Day One Post 2 dibuka. Tanpa pikir panjang saya langsung mendaftarkan diri, kesempatan baik jangan di tunda-tunda. Setelah masuk di grup ODOP 2, ternyata bukan saya doang yang berharap, banyak juga yang menginginkan kelahiran One Day One Post 2.
Kenapa mengikuti One Day One Post 2, tugas pertama dari bang Syaiha. Jawabannya, yah karena pengen jadi penulis, (yaelah semua orang juga tahu ikut ODOP bakal jadi ahli rangkai kata-kata bukan ahli rangkai bunga, apalagi ahli masak). Alasanya, nah itu dia kalau di tanya, buanyak alasanya. Mendisiplikan diri menulis, selama ini kebiasaan menulis saya parah. Nulis 3 hari seminggu bolos, nulis seminggu sebulan nggak pernah muncul (parah kan? Kalau sudah begini mimpi jadi penulis sampai kelapa berbuah pinang juga, tidak akan terwujud). Tidak pernah PD dengan tulisan sendiri, tulisan empat halaman (serasa ada yang kurang), fakir kosa kata, miskin gaya bahasa, kadang nggak nyambung lain judul lain yang di bahas. Sadis, semua jadi masalah, sudah jadi juri, kritik sana-sini, jadi haters pula (kapan jadi penulis?). Liat tulisan anak-anak di KBM, PD saya merosot, turun drastis. Tulisannya mendayu-dayu, diksinya manis, mengalir seperti air (saya kapan bisanya?). lagi-lagi saya merasa kurang dari segala sisi, kurang inilah, kurang itulah (sampai ada yang teriak, syukurnya juga tuh yang kurang). Ya, Boleh jadi rasa syukur saya yang kurang, punya kemauan jadi penulis satu tingkat di atas mereka yang tidak punya keinginan menulis. Banyak orang yang tidak memiliki kemauan, nggak tahu mau buat apa. Hidup, yah hidup aja, jadi apa kedepannya ikuti arus, mau di bawa kemana yah terserah takdir maunya apa (pasrah...).
Alasan yang terakhir dari sekian banyak alasan yang tidak bisa saya tulisakan, adalah harapan saya menjadi bagian dari keluarga besar ODOP 2 mampu memabawa saya kearah yang lebih baik, istiqomah menulis. Bagi saya menulis adalah ibadah, “tidaklah Allah, menciptkan jin dan manusia melainkan untuk beribadah”. Setip kalimat yang tertulis semoga mengandung manfaat. Kerana sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Semoga saya tetap komitmen menjadi bagian dari ODOP 2 dengan terus memposting tulisan di blog tiap hari.
Merenda mimpi bersama ODOP, meyulam harapan, merajut doa, merangkai kata sebagai bukti memaksimalkan potensi, mensyukuri nikmat yang telah di beri. Terimakasih buat bang syaiha, telah mendeklarasikan ODOP, mohon bimbingannya, tegurannya, bila saya dan teman-teman yang lain mulai bertingkah.
Sayangnya, empat kalimat di atas semata-mata teori yang menempel di batok kepala saya istilah bekennya ngomdo (ngomong doang), realisasinya nol. Bersyukurnya, saat saya banyak cakap Allah gerakan tangan hamba-Nya yang mualaas ini membuka Facebook. Disanalah saya menemukan tulisan bang Syaiha tentang One Day One Post 1. Wah bagus banget nih... cocok buat saya, tapi sayang seratus kali sayang pendaftarannya sudah lama di tutup. Nyesel juga kenapa baru sempat baca, kemana aja selama ini (tepok jidat), tapi sebagai seorang muslim nggak boleh putus asa, di syukuri, meski tidak jadi anggota ODOP, sempat baca itu sudah sesuatu banget. Teringatlah saya pada ayat di al-qur’an, “Barang siapa bersyukur maka akan di tambah nikmatnya, dan siapa yang tidak bersyukur, sesungguhnya azab Allah sangat pedih”. Nah dari pada di azab, mending bersyukur, kalau jodoh pasti bertemu. Saya berharap, semoga bang Syaiha tergerak hatinya membuka pendaftaran One Day One Post 2.
Di bulan februari harapan saya berbalas, pendaftaran One Day One Post 2 dibuka. Tanpa pikir panjang saya langsung mendaftarkan diri, kesempatan baik jangan di tunda-tunda. Setelah masuk di grup ODOP 2, ternyata bukan saya doang yang berharap, banyak juga yang menginginkan kelahiran One Day One Post 2.
Kenapa mengikuti One Day One Post 2, tugas pertama dari bang Syaiha. Jawabannya, yah karena pengen jadi penulis, (yaelah semua orang juga tahu ikut ODOP bakal jadi ahli rangkai kata-kata bukan ahli rangkai bunga, apalagi ahli masak). Alasanya, nah itu dia kalau di tanya, buanyak alasanya. Mendisiplikan diri menulis, selama ini kebiasaan menulis saya parah. Nulis 3 hari seminggu bolos, nulis seminggu sebulan nggak pernah muncul (parah kan? Kalau sudah begini mimpi jadi penulis sampai kelapa berbuah pinang juga, tidak akan terwujud). Tidak pernah PD dengan tulisan sendiri, tulisan empat halaman (serasa ada yang kurang), fakir kosa kata, miskin gaya bahasa, kadang nggak nyambung lain judul lain yang di bahas. Sadis, semua jadi masalah, sudah jadi juri, kritik sana-sini, jadi haters pula (kapan jadi penulis?). Liat tulisan anak-anak di KBM, PD saya merosot, turun drastis. Tulisannya mendayu-dayu, diksinya manis, mengalir seperti air (saya kapan bisanya?). lagi-lagi saya merasa kurang dari segala sisi, kurang inilah, kurang itulah (sampai ada yang teriak, syukurnya juga tuh yang kurang). Ya, Boleh jadi rasa syukur saya yang kurang, punya kemauan jadi penulis satu tingkat di atas mereka yang tidak punya keinginan menulis. Banyak orang yang tidak memiliki kemauan, nggak tahu mau buat apa. Hidup, yah hidup aja, jadi apa kedepannya ikuti arus, mau di bawa kemana yah terserah takdir maunya apa (pasrah...).
Alasan yang terakhir dari sekian banyak alasan yang tidak bisa saya tulisakan, adalah harapan saya menjadi bagian dari keluarga besar ODOP 2 mampu memabawa saya kearah yang lebih baik, istiqomah menulis. Bagi saya menulis adalah ibadah, “tidaklah Allah, menciptkan jin dan manusia melainkan untuk beribadah”. Setip kalimat yang tertulis semoga mengandung manfaat. Kerana sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Semoga saya tetap komitmen menjadi bagian dari ODOP 2 dengan terus memposting tulisan di blog tiap hari.
Merenda mimpi bersama ODOP, meyulam harapan, merajut doa, merangkai kata sebagai bukti memaksimalkan potensi, mensyukuri nikmat yang telah di beri. Terimakasih buat bang syaiha, telah mendeklarasikan ODOP, mohon bimbingannya, tegurannya, bila saya dan teman-teman yang lain mulai bertingkah.
Selasa, 01 Maret 2016
Menunggumu...
Apakah aku masih menunggumu?
Ya.
Aku menunggumu tahun kemarin, tahun ini dan tahun yang akan datang
Apakah aku lelah menunggumu?
Tidak.
Tidak untuk hari ini, esok dan hari yang akan datang
Mengapa aku menunggumu?
Entahlah...
Bukankah ada ribuan pria yang pernah aku temui dan hingga detik ini aku masih setia menunggumu.
Aku masih di sini, menunggumu, menghabiskan malam menatap rembulan. Menikmati sepi, desau angin yang berbisik. Menatap langit, berbicara pada bintang.
Aku akan menunggumu.
Jika belum saatnya, usah datang menemuiku. Biarkan malam, bulan, angin dan bintang menjadi saksi kesendirian ini. Saksi yang tak akan bedusta di hari kemudian.
Aku menunggu, menjaga kesucian rindu, tak perlu rayuan mesra, karena setiap ucapan kan di mintai pertanggungjawaban.
Aku tetap menunggumu, menggenggam rindu, hingga takdir berkata lain.
Sigi, 1 Maret 2016
Senin, 29 Februari 2016
29 Februari 2016
29 Februari 2016
Beginikah rasanya, kali pertama
setelah bertahun-tahun lamanya, tanpa arah yang jelas. Merangkai kata demi
kata, melompat dari judul satu ke judul yang lain. Meramu ide, menjadi tulisan
yang enak di baca. Dari usia belasan hingga menuju angka puluhan, tak ada
satupun naskah yang terkirim. Hingga saya memberanikan diri mengirim naskah
dalam sebuah lomba menulis, 29 Februari 2016. Tanggal yang hanya ada sekali
dalam empat tahun, saya mengirim naskah, dan itu adalah pertasi baru yang saya
lakukan dalam menulis. Begitu lama berproses, tidak percaya diri, merasa
tulisan saya yang paling jelek, tidak terstruktur, miskin kosa kata dan semua
masalah membuat saya tidak pernah berani mengirim naskah.
29 Februari 2016, langkah baru
di mulai, melawan rasa malas dan keputus asaan. Ada banyak tulisan nangkring di
laptop saya, diataranya Surat untuk Sang Mantan tulisan dua tahun lalu. Saya revisi,
dan mempostingnya diblog, berharap satu dua orang terinspirasi. Menulis tidak hanya
bermodalkan bakat, di perlukan keberanian dan kerja keras. Harapan saya naskah
yang pertama menjadi salah satu naskah terbaik, sejejar dengan dua puluh naskah
lainnya. Meski sebenarnya yang paling penting bagi saya adalah terkirimnya
naskah, setelah sekian lama berkutat dengan huruf-huruf.
29 Februari 2016, hari pertama
tulisan saya di ODOP. Hari bersejarah yang hanya bisa di kenang sekali dalam
empat tahun. Tetap semangat, semoga tulisan bernilai ibadah dan kelak
mendapatkan balasan setimpal, sebab Allah
tahu cara terbaik membalas kebaikan.
Langganan:
Postingan (Atom)