Sabtu, 29 November 2025

Siapa yang akan percaya

Kisah ini telah menemani perjalanan hidupku belasan tahun lamanya. Membawaku kadang menjadi seseorang yang sangat teramat kuat dan kadang menjadi seseorang yang sangat lemah berharap belas kasihan dan kepedulian dari orang lain. Sakit yang begitu menyiksa seolah tak ada yang percaya dan peduli. Berteriak meminta tolong tapi tidak ada satupun yang mendengar. Menceritakan kejadian sebenarnya tapi tak ada yang benar-benar mampu memahami. 

Hari-hariku dihabiskan untuk memahami keadaanku, melawan rasa sakit yang datang tiba-tiba. Melawan rasa lupa yang merenggut harapan hidupku. Tidak terhitung berapa kali aku terjatuh dan bangkit agar kehidupanku kembali terarah. 

Siapa yang akan peduli?
Semua mata seolah tak melihat dan hati seolah tertutup.
Inilah tentang perjalanan hidupku melawan sesuatu yang tidak terlihat dan bertahan hidup tanpa pelukan hangat, pembelaan dan kepedulian. 

Rabu, 28 Februari 2018

Hijrahmu untuk siapa?

Aku malu. Sungguh betapa aku mangakui kejahilan ini. Benar aku telah hijrah, belajar menjadi baik. Berproses memperbaiki kesalahan yang dulu pernah ku lakukan.

Seiring berjalannya waktu, aku telah menjadi muslimah yang baik, itu kataku. Iya, aku tidak berpacaran, tidak juga menjalin hubungan tanpa status, tidak mencari-cari perhatian pada seorang ikhwan.

Aku benar telah melakukan hal yg di ajurkan agama, menjaga diri, juga menjaga hati.  Tidak  ku pamer ibadahku di media sosial. Tidak juga ku umbar mushaf yang telah kuhatamkan. Tidak pula ku pasang foto profil, wanita sholehah. Tidak pernah sekalipun ku upload foto diri dengan jilbab panjang tergerai dengan gamis menjuntai. Tidak!  tidak pernah sekalipun ku perlihatkan diriku dan amal-amal baik yang pernah ku perbuat.

Aku bersembunyi, di balik keramaian dunia maya . Ketika orang-orang sibuk memperlihatkan apa yang pantas di banggakan.

Semoga dalam kesunyian ini, Allah mempertemukanku dengan seseorang yang juga sibuk menyembunyikan diri dengan amal-amal baiknya. Harapan yang dulu sangat bangga ku ceritakan pada kawan-kawanku.

Dengan hati berbunga ku tuliskan di akun pribadi. "Sungguh, jika disana kamu menjaga, disini aku akan setia" Untuk siapa? Untuk  dia, seseorang yang tak tau kapan datangnya. Untuk Tuan tak bernama. Untuk seseorang yang tak tau di mana rimbanya.

Ibadah-ibadah yang ku lakukan, bukan untuk surga yang ku tuju, bukan lagi ridho  yang ku cari. Tapi dia, yang ku selip kriterianya dalam doa, "Baik akhlak dan agamanya"

Aku ingin baik. Ya... Karena aku ingin di pasangkan pula dengan yang baik. Aku ingin taat, karna aku ingin dia yang taat pada Rabbku.

Hijrah ini untuk siapa?

Selasa, 01 November 2016

Tentang Kita

Ya akhi, jika engkau berpikir hadirku kembali, menghidupkan rasa yang lama. Maaf ya Akhi, sungguh tidaklah demikian maksud hati ini.

Ya Akhi, tidak ku sesalkan kita pernah bersama, tidak pula ku tangisi perpisahan di antara kita. Begitulah takdir yang harus dilewati. Luka memang, tapi tidak mengapa jika kita mampu mengambil pelajaran darinya.

Ya Akhi, justru sangat ku sesalkan bila di hati kita masih terselip harapan untuk kembali bersama, berdua-duaan, bercengkrama hingga larut malam, saling memberi perhatian, saling merindukan padahal kita paham bahwa perilaku semacam itu tak dapat di benarkan.

Ya Akhi, maaf jika aku pergi tanpa pamit. Sebab rasanya tak ada alasan yang bisa ku jelaskan. Sebagimana dulunya aku datang tanpa permisi.

Senin, 31 Oktober 2016

Hati yang lelah

  اسلام عليكم
Apa kabar saudariku?
Semoga hati-hati kita masih sama seperti yang dulu.
Rindu, sungguh hati ini merindu  ya ukhti. Rindu kebersamaan, tawa, canda, celoteh dan hari-hari dimana kita berjuang, mengikis ego, saling memahami. Kita memang berbeda namun tujuan kita sama.
.
Apa kabar hati-hati kita, mungkinkah ia mulai lelah?  Atas amanah yang dibebankan. Atas perjuangan tanpa ujung.
.
Masihkah kita menjadi orang-orang pilihan.  Insan yang diberi kesempatan, lebih dari yang lain. Mengemban tanggungjawab sekaligus belajar.
.
Hati kita mungkin mulai lelah, melihat kenyataan yang tak seindah harapan.
Ingat ya ukhti,  tugas kita menasehati bukan menghakimi,  tugas kita memahamkan bukan memaksakan.
Paham tanpa paksaan, paham tanpa hinaan.
.
Dakwah sungguh tak lagi Indah jika niat kita telah berubah yang dulunya untuk Allah sekarang berubah karena untuk manusia, untuk organisasi dan kepentingan kelompok.
.
Tugas kita memperbaiki tanpa harus merusak. Jika ada yang salah hari ini, bukan manusianya yang salah. Barangkali hati-hati kita sedang kotor, sedang lelah dan niat kita mungkin telah berubah pula.
.
Sebelum memperbaiki umat, jauh lebih kita memperbaiki hati.

Kamis, 13 Oktober 2016

Jawaban yang tak sesuai kenyataan

Entah hanya aku mungkin yang merasa, atau mungkin juga ada segelintir orang diluar sana merasakan hal yang sama.

Entah kemana harus bertanya, entah pada siapa harus berbagi. Keresahan yang menghadirkan banyak tanya. Mengahantarkan pada kegelisahan yang tak berujung.

Ku temukan diriku dulu hanya seorang anak manusia yang mengaku beragama. Namun, hidupnya sangat jauh dari nilai-nilai agama. Ku tahu Tuhanku, sekedar tahu saja. Ku tahu nabiku, sekedar tahu saja.

Hidayah menyapa. Setelah begitu banyak pertanyaan bergemul di benak. Dari mana? Hendak apa? Kemana muara kehidupan ini?

Satu persatu pertanyaan mulai terjawab. Aku pikir ketika ku temukan jawaban, keresahanku mulai berkurang.

Entah mengapa, ada sekelumit tanya yang tak bisa terjawabkan, meski berkali-kali ku temukan jawaban.

Jawaban yang benar, kenyataan yang berbeda, mungkin demikian. Apa yang salah? Begitulah tanya yang seakan enggan pergi.

Dari satu langkah ke langkah yang lain, dari satu tempat yang lain. Ku temukan fakta, bahwa banyak orang-orang dan akupun di antaranya.

Bangga pada tempat kajiannya, membangga-banggakan lalu dengan sadar merendahkan yang lain. Membangga-banggakan lembaganya, ormasnya meremehkan yang lain. Mebangga-banggakan kelompoknya merendahkan yang lain.

Yang tak sepaham berarti tak segolongan. Engkau dari mana, aku dari mana.

Bukan. Bukan karena aku bingung menyimpulkan mana yang benar mana yang salah. Hanya saja aku bingung, kenapa semua merasa benar, sibuk membenar-benarkan dan yang paling membingungkan kenapa sibuk menyalahkan.

Entahlah... Mungkin hanya aku yang merasa. Mungkin hanya aku pula yang sibuk bertanya.

*Adibah Damayanti

Rabu, 12 Oktober 2016

Tentang Kita (Part 1)

Teruntuk dirimu yang tertulis namanya di lauh mahfuz, yang terus memperbaiki diri, istiqomah dalam kesendirian, menjaga pandangan tidak pula mengumbar harapan. Kelak, jika kita bertemu, semoga engkau menemukan diriku seperti halnya dirimu.

Jika aku berharap kebaikan yang apa pada dirimu adalah kebaikan untukku. Kaupun berhak mendapatkan kebaikan yang ada pada diriku.

Semisal ada keburukan pada dirimu, tentulah kan kau temui keburukan pada diriku.

Sebagimana usaha dan sabarmu, sedemikian pula ikhtiar dan doaku.

Jika tak satupun wanita yang berani kau sentuh jemarinya. Maka tak satupun lelaki yang ku izinkan menyentuh jemariku.

Sebesar apa harapanmu agar dipertemukan dengan yang terbaik, sebesar itu pula harapanku.

*Adibah Damayanti

Selasa, 11 Oktober 2016

Menyesal, kenapa baru baca sekarang

Dulu... Waktu masih kuliah buku yang satu ini, jangankan baca, liat judul sama sampulnya saja sudah tdk suka. "Nikmatnya pacaran setelah pernikahan" di tambah gambar ada pasangan suami istri lagi boncengan naik sepeda. Keknya pembahasannya nikah-nikah, malas masih kuliah, mau fokus jomblo dulu (hehehe) fikiran saya waktu itu.

Cukup lama buku ini menginap di kos, selama itu juga saya tidak pernah baca bukunya, liat dari kejauhan. Tidak tertarik sama sekali.

Ada beberapa senior merekomendasikan, "Baca dek, bukunya Bagus. " kesimpulan dari mereka isinya Bagus. Fikir saya paling senior, mau menikah, makanya bilang Bagus.

Beberapa tahun kemudian, saya akhirnya membeli buku ini juga. Alasannya, buka karena penasaran sama tulisannya yang katanya keren itu, tapi karena kebiasaan saya beli buku di toko buku online kalau timbangannya belum cukup 1 kg, mesti tambah 1 buku lagi. Sayang ongkir ( hehehe)

Entah karena waktu itu saya sedang galau atau entah karena apa, yang pasti sebab izin Allah. Saya membaca buku ini sampai selesai. Dan kesimpulannya, saya menyesal kenapa baru baca bukunya bulan September kemarin, kenapa tidak dari tahun-tahun kemarin.

Nikmat Pacaran Setelah Pernikahan, menggugah dan menginspirasi.

Malam ini, sahabat skaligus spupu plus teman sekos saya, lagi baca buku ini. Baru halaman awal sudah meneteskan air mata. Saya tidak tahu karena dia terbawa perasaan atau entah karena berpikir, "kenapa baru baca bukunya sekarang. "

Nah, buat kamu-kamu yang sedang di uji perasaanya. Sedang dekat sama seseorang tanpa kejelasan dan kamu tahu apa hukumnya. Tapi, karena kurang yakin, setengah-setengah berhijrah, tetap saja berhubungan. Buku ini bisa jadi solusi.

Tulisan ini tidak bermaksud promosi. Sekedar ingin berbagi, merekomendasikan buat para muslim wa muslimah yang belum ingin menikah, yang punya gandengan tapi belum nikah² atau yang ingin menikah tapi belum punya gandengan (calon).

*Adibah Damayanti

Jumat, 07 Oktober 2016

Markas Muslimah

Kenyataannya kalian memang menyebalkan, suka membuat kesal, gaduh, usil. Terlepas dari semua itu bagiku kalian adalah guru-guru kehidupan.

Terimakasih, karena menjadikanku bagian dari kalian. Betapa hati ini merindu, rindu akan prinsip dan saling menghargai di antara kita.

Tentang malam minggu, bahkan kita rela menghabiskan ratusan malam minggu, di dalam rumah tanpa berfikir waktunya jalan-jalan untuk melepas penat sepekan. .
Ketidak adaan uang jadi alasan utama, ketidak adaan pacar adalah alasan berikutnya. Tapi tidak mengapa, kita adalah orang-orang bahagia.

Siapa diantara kita yang membawa teman lelaki, sahabat saudara atau siapa saja yang hendak bertamu, akan meminta izin terlebih dahulu, memberi tahu siapa yang akan datang. Jam 10 adalah batas maksimal waktu bertamu. Selebihnya, dikembalikan ke perasaan tamu, dan orang yang di kunjungi.

Jika ada yang keluar rumah, maka selalu ada pemberitahuan lewat sms, jam berapa pulang, tanpa harus ditanya, tanpa harus di peringatkan.

Dan dengan siapa pergi, pasti ada salah satu di antara kita di beri tahu, jika sifatnya privasi.

Hebatnya kalian, itu semua terbentuk tanpa peraturan tertulis. Karena ada rasa saling menghargai, rasa "tidak enak" yang membentuk rasa saling memahami. Hingga akhir kuliah, kita tetap bertahan di satu rumah yang sama dengan orang yang pula.

Dengan bangga ketika pulang kampung aku menceritakan kalian kepada orang rumah. Tentang kita yang tidak pernah berseteru perihal makanan. Tentang kita yang selalu kompak mengumpulkan uang bulanan. Tentang kita selalu bersedia membayar denda karena lupa atau sengaja tidak melaksanakan tugas bersih-bersih. Tentang kita yang selalu ada hari untuk makan bersama. Tentang kalian dengan prinsip hidup luar biasa.

Terimakasih, karena dari kalianlah aku belajar tentang kesederhanaan. Dengan
seapaadanya kalian, tidak ada alasan untuk tidak bahagia.

Tetaplah seperti yang dulu, meski kita tidak lagi menjadi penghuni markas muslimah. Tetaplah seperti dulu, tetap pegang prinsip, bahwa kita tidak akan melepas status "Jomblo" hingga Allah, mempertemukan kita dengan pria yang bertanggung jawab, yang tidak berani mendekat karena modal nekat.

Suatu hari nanti, aku akan bercerita pada "Abu goib" begitulah kalian menyebutnya. Tentang kalian yang luar biasa. Suatu hari nanti aku akan bercerita pada anak-anakku, ponakan mungil kalian, bahwa mereka memilik tante yang luar biasa seperti kalian. Suatu hari nanti aku sangat bangga membagikan kisah kita kepada cucu-cucuku, bahwa mereka memiliki nenek luar biasa, seperti kalian.

Jika diberi kesempatan, aku akan mengajak "Abu goib" bersama ponakan kalian, melihat kembali sejarah, perjalanan hidup kita di kota Daeng.
Semoga kita bisa bertemu di sana, bersama "Abu goib" kalian dan tentu bersama penokan-ponakanku yang lucu-lucu.

Salam rindu untuk kalian penghuni "Markas Muslimah"

*Adibah Damayanti

Kamis, 06 Oktober 2016

Ayah...

Jikapun ayah tak ada di samping, merasalah selalu terawasi olehnya. Kita tak akan berani keluar rumah tanpa sepengatahuannya, kita tak akan berani menerima ajak seorang pria tanpa izinnya. Dan kita tidak akan berani pulang larut malam bersama seoarang lelaki jika kita tahu bahwa ayah sedang menunggu di rumah.

Menghormati, bukan hanya karena Ayah ada didepan kita, bukan karena ia mengawasi apa yg kita perbuat.

Sejauh apapun kaki melangkah, terpisah jarak dan penjagaan, penghormatan kita tidak akan pernah terputus.

Memang hidup kita berjauhan, tapi itu bukan berarti sebebas-bebasnya kita berbuat, sesuka hati kita berkehendak.

Bukan alasan, ketika kita meyakinkan diri bahwa tidak akan terjadi apa-apa, bahwa semua akan baik saja.

Dunia ini, teramat kejam untuk jawaban sepolos itu.

Pikirkan Ayah kita yang teramat percaya, ia termat baik memberikan kesempatan, diatas semua keraguan yang terpikirkan, masa depan anaknya lebih ia utamakan.

Kita tidak akan berhenti menghormati ayah, walau ia jauh sekalipun.

*Adibah Damayanti

Rabu, 05 Oktober 2016

Bersabarlah denganya...

Duhai,  bagaimanalah bisa kujelaskan jika sampai detik ini kita tdk pernah sepaham.

Bagaimanalah bisa ku pahamkan,  jika kau tidak ingin memahami apa yang ku pahami.

Tidakkah kita sekeyakinan?

Maka jangan tanya lagi untuk apa aku menjauh. Jangan tanya lagi untuk apa aku menghindar.

Urusan diantara kita,  tidak hanya semata-mata perihal perasaan. Ada keimanan yang mesti kita pertanyakan.

Lupakan soal mesra, perhatian yang berlebih, kekhwatiran yang tak berujung. Karena dibalik itu, ada benih dosa yang sedang kita tanam,  kelak kan kita tuai di yaumul hisab.

Dengarkan aku!

Tidakkah kau ngeri,  membayangkan hari pembalasan?

Terlalu banyak hal yang mesti kita pertanggungjawabkan. Maka,  mari menguranginya,  dengan tidak ada lagi mesra di antara kita.

Sungguhpun rindu membelit,  derita  mengusik, bersabarlah dengannya. Karena alasan cinta,  tidaklah kita menjadi orang-orang yang menentang perintah-Nya.

Selasa, 04 Oktober 2016

Hijrahlah karena Allah...

Semoga Allah senantiasa melindungimu, membawa langkahmu kejalan cahaya, menuntunmu pada hidayah.

Allah mengatur segala yang terjadi diantara kita, Allah yang mempertemukan dua hati manusia yang mengaku saling mencinta namun belum pernah bertatap muka. Dua insan yang dulu kasih mengasihi diusia remaja, berjanji saling setia, namun akhirnya memilih berpisah.

Mengkhiri kisah yang tak tahu kemana muaranya, itulah jalan terbaik meski harus menanggung duka. Walau pilu ditanggung berhari-hari lamanya.

Empat tahun cukup sudah, sebagai penyembuh luka, pelebur dendam. Menghadirkan keikhlasan dan pelajaran bagi kehidupan.

Tidak perlu meminta maaf berkali-kali, sebab jauh hari sebelum kata maaf terucap, aku telah ridho dengan semua yang terjadi.

Meyakini apa yang terjadi adalah takdir Allah, begitulah caraku memahami peristiwa masa lalu kita.

Tak usah  ingatkan aku dengan masa lampau, walau sejauh apapun kaki ini melangkah, ia tidak akan terlupa.
Sebab dari sanalah banyak pelajaran yang ku peroleh. Belajar perihal takdir, ikhlas dan memaafkan. Kesemuanya itu sulit aku dapatkan ditempat lain.

Jangan pernah pengaruhi aku dengan kata-kata suka atau apapun itu, tak ada gunanya. Sebab aku, gadis yang belum pernah kau temui ini, telah berubah, tak sama lagi seperti dulu. 

Terimakasih karena telah mengajarkanku agar tak mudah percaya pada banyak lelaki.

Allah mengantarkan ke jalan hidayah, ketempat dimana ku temui cinta yang sesungguhnya dan tempat yang mengajariku bagaimana cara mencintai agar di ridoi oleh-Nya.

Sejak lama ingin ku ajak dirimu bersama menempuh jalan-Nya, merasakan nikmatnya iman. Namun kau sepertinya masih sibuk, berlompat dari satu hati wanita  ke hati wanita yang lain.

Beberapa kali ku menegurmu lewat tulisan, namun kau abai, jangankan membalas membacanyapun tidak
Aku memilih berhenti menegurmu, bukan karena aku menyerah, harapku tetap sama tidak berubah walau semili. Hanya saja, aku sadar mungkin belum waktunya kau untuk berubah. Sepertinya kau belum ingin jeda dari menikmati permainan dunia.

Saat usia kita telah dewasa, aku kembali ingin mengajakmu kejalan-Nya. Aku sadar perlahan kau mulai berubah, entah karena wanita yang menghuni hatimu kini atau karena kau telah menyadari hakikat kehidupan sebenarnya. Dari mana? untuk apa? dan hendak kemana?

Tugasku hanya mengingatkan, menasehati, tidak lebih. Jika terselip kata seolah menggurui, mohon ampuni sebab aku, seorang wanita yang baru belajar memperbaiki diri.
Aku ingin dirimu menjadi sosok lelaki yang mengagumkan, lelaki yang memiliki pemahaman agama yang baik serta pengamalan agama yang baik pula.

Harapku, kau memahami hakikat lelaki, bertanggungjawab, bijak dan tidak suka menghambur-hamburkan janji.

Lelaki yang pantas dipatuhi oleh istri, lelaki yang pantas untuk teladani oleh anak-anakmu kelak,  lelaki yang pantas untuk dikagumi.

Menjadi sosok sederhana, mengerti apa yang ingin diraih dan apa yang harus ditinggalkan.

Dan kesemua itu bisa kau raih, jika kau ingin belajar memahami agama islam secara utuh dan menyeluruh.

Aku menyayangimu bukan sebagai orang yang dulu pernah mencintaimu, bukan seorang yang dulu rela menyianyiakan waktu bersamamu. Aku menyayangi, sama halnya seperti aku menyayangi keluargaku, menyayangi sahabat-sahabatku.

Sebab aku menginginkan kebaikan bersama kalian, kebaikan yang Ingin ku sebar kebanyak orang. Kebaikan yang akan mempertemukan kita di jannah-Nya.

Hijrahlah, temui kehidupan yang lebih baik. Kita bersama-sama memperdalam ilmu agama.

Bukannkah dulu kita pernah menjadi dua orang yang sangat dekat. Tidak peduli walau kita tidak pernah bertemu. Bukankah dulu kita pernah menjadi akrab, meski awalnya kita tidak saling mengenal.

Maka tidak perlu sungkan bertanya, berbagi atau menasehati. Jangan menjadi asing, pada orang yang kau kenali. Bangun ukhuwah diantara kita. Bukan permusuhan yang harus yang terjadi, setelah perpisahan itu.

Dan hijrahlah karena Allah, Karena yang baik tentulah bersama yang baik pula.

Jadilah sosok lelaki yang mengagumkan untuk wanita yang akan mengabdikan seluruh hidupnya untukmu.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Selasa, 28 Juni 2016

Wanita masa lalumu

Aku ingin berbagi kerinduan dengannya, pada wanita yang pernah menghuni relung hatimu. Aku tahu kau masih saja menghubunginya, bertanya kabar. Meskia dia, wanita dimasa lalumu tampak acuh, dia tidak marah pun tak membenci.

Kau berharap ia menghubungi, bertanya kabar walau sekedar berbasa-basi. Namun ia tak kunjung menyapamu, ketahuilah ia tidak melupakanmu.

Biar sedikit kujelaskan mengapa ia menjauhimu menjaga jarak. Ia tidak seperti wanitamu ini, wanita yang memaksa agar bisa memilikimu seutuhnya, meski aku sadar tak takdir belum tentu menyatukan kita.

Aku wanita yang selalu memaksa jalan cerita, membuat segalanya seolah indah, menipu hati kecilku. Ia wanita yang tahu sebatas mana ia harus mencinta, sebatas mana ia harus berjuang. Ia wanita masa lalumu, memperbaiki diri menjaga jarak bukan hanya denganmu tetapi dengan lelaki yang bukan mahram.

Ia wanita masa lalumu percaya pada takdir, bukan hanya dilisan, tidak sekedar dihati tetapi ditunjukan dengan perbuatan. Ia wanita masa lalumu, menjaga rindu, menyampaikannya pada pemilik hati.

Ia rela mundur, bukan karena memberikan kesempatan untukku, ia ingin agar kau ikut memperbaiki diri. Maafkan aku wanitamu, lisan kadang berdusta, aku tidak seuntuhnya mencintai, aku terlalu banyak menuntut, banyak meminta padahal cinta sesungguhnya bukan meminta tetapi memberi.

27 Juni 2016
*Adiba Damayanti

Untukmu, Penghuni hatiku

Harus ku akui, jika sikapmu mulai berubah. Tatapanmu tak lagi seindah dulu, senyumanmu tak lagi menyenangkan. Benarkah hatimu berpaling? Seperti dikatakan banyak orang.

Apa yang membuat cintamu memudar, bukankah aku masih secantik dulu, tak berubah, masih sama seperti pertama kali kita berjumpa. Tubuhku masih selangsing dulu, tak katemui lemak bersusun. Baju yang kau berikan, masih muat kupakai. Pesonaku, apa kau meragukannya? Lupakah kau, bagaimana caraku meyakinkanmu, berhari-berhari kau merajuk, mendiamkanku, tak sudih jika wanitamu banyak yang mengagumi.

Apa yang membuatmu berubah? Bukankah selama ini aku tak pernah menuntutmu lebih. Hanya cinta dan perhatian, itupun rela ku bagi dengan mereka yang juga menyayangimu. Aku juga tidak memintamu segera membawaku kedepan penghulu. Aku tahu perjuanganmu tidak mudah, wajah kusut dan cara bicaramu menjelaskan semuanya.

Kesetiaan, jangan lupakan itu, kita berjanji tidak akan saling menghinati.

Adakah wanita lain? Penghuni baru dihatimu. Apakah kau menemukan sosok keibuan darinya, pribadi yang tidak kau dapatkan dari wanita manja sepertiku. Maaf jika aku sedikit kaku, sulit menjadi seperti apa yang kau mau, sebab wanitamu ini tidak pernah mengenal sosok ibu seumur hidupnya. Wanita yang belajar kasih dari kerasnya kehidupan. Wanita yang tidak pernah mendapatkan kehangatan dalam keluarga. Wanita yang belajar cinta dari rasa iba orang.

Jika wanita baru itu mampu menjadi sandaran keluhmu, menjadi sosok ibu penghibur lelahmu. Izinkan aku wanitamu, belajar darinya, menimba ilmu menjadi sosok wanita keibuan yang kau idamkan. Kau tak perlu risau, aku tahu sebatas apa aku harus cemburu. Bukankah aku dan dia sama-sama wanita yang belum halal untukmu. Tak mengapa bila aku harus berbagi perhatian dengannya. Selama kau belum memutuskan pada siapa hatimu kan berlabuh, rasanya tak berhak aku melarangmu. Aku hanya wanita yang bertumpu pada janji-janjimu, sekali kau ingkar hilang semua harapanku.

Dan bila suatu hari nanti,  tak jua kau temui sosok keibuan dariku, izinkan aku belajar menjadi ibu dari anak-anakmu.
28 Juni 2016
*Adiba Damayanti

Sabtu, 16 April 2016

Topeng Pemberian Allah



Topeng Pemberian Allah...

Sebagai manusia kita tidak pernah luput dari kesalahan, khilaf yang di sengaja. Jika diibaratkan pakaian yang ditumpuk, dosa telah menggunung. Lalai, pura-pura tidak menyadari apa yang sedang di perbuat. Allah Maha Tahu, tidak ada yang kemudian luput dari pandangan-Nya. Kita merasa semua baik-baik saja, toh selama ini orang-orang masih saja memuji, menyanjung. Sepertinya kita memang tidak memilik dosa, kalau saja dosa itu ibarat belatung, maka tiap hari akan ada saja belatung yang kita keluarkan.
                 
           Jika kita jalan-jalan menyusuri kota atau menonton teve kita banyak menemukan wanita-wanita dengan bangga mempertontonkan aurat, bangga dengan pakaian minim. Seakan semua sah-sah saja, mengajarkan bahwa inilah pakaian wanita zaman ini. Saya merasa sedih, mengapa wanita di jadikan barang dagangan, di perjual belikan auratnya. Dan yang membuat saya lebih sedih lagi, ketika wanita rela menjual auratnya dengan iming-iming popularitas.

Topeng Pemberian Allah...
                 
               Bukannkah saya lebih banyak dosanya, dari wanita-wanita yang mengumbar aurat-aurat itu. Orang-orang hanya melihat apa yang tampak, tapi mereka tidak mengetahui siapa saya yang sebenarnya.  Pujian dan sanjungan yang saya dapatakan, karena Allah menutupi semua kesalahan, aib-aib saya yang bejibun. Karena Allah menghalau pandangan orang-orang dari dosa yang saya perbuat.  Saya mengenakan topeng pemberian Allah, topeng yang menutupi semua aib-aib saya.
                 
           Apalah arti pujian dan sanjungan manusia, jika sebenarnya yang terlihat hanyalah topeng pemberian Allah.
               

Kamis, 14 April 2016

Jiwa-Jiwa Qarun

Jiwa-jiwa Qarun...

Tanpa di sadari, perlahan namun pasti, sedikit lalu membukit jiwa-jiwa Qarun bersemai dihati. Jiwa yang sombong nan angkuh, mengkilap menyilaukan mata, melukai hati-hati mereka yang papah. "Ini semua karena usahaku" pernah mendengarnya, atau mungkin kita sering berucap demikian. Terkadang kita lupa, apa yang kita dapatkan bukan semata-mata karena kerja keras, bukan jua karena kita pandai dan lihai dalam berbagai macam usaha. Pernah melihat orang yang tidak pernah kaya, meski bekerja keras mengais rezeki ketika sebagian orang masih terlelap? Meski sekuat apapun usaha yang mereka lakukan, masih saja tidur di tempat kumuh, berpakaian lusuh. Apakah usaha mereka belum maksimal, ataukah mereka kurang cerdas untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah?

"Itu karena mereka tidak bisa melihat peluang, saya juga dulu tapi lihat sekarang, apa yang tidak ada, rumah mewah, mobil, istri yang cantik anak yang banyak, penghasilan di atas rata-rata. Ini semua karena kerja keras saya."
Jiwa-jiwa Qarun...
Seperti itulah Qarun, mengakui bahwa semua yang ia miliki murni karena usahanya. Kesombongannya menjadikan Allah murka.
Mungkin sebagian dari kita termasuk saya juga, tanpa di sadari menabur benih kesombongan di dalam hati. Tak sekaya Qarun tapi sombongnya setara Qarun.

Jiwa-jiwa Qarun...

Apapun yang kita dapatkan hari, karena Allah Maha Pemurah, Pemberi rezeki bukan semata-mata karena kita pekerja keras, Allah yang berkehendak sekalipun kerja siang malam, banting tulang, jungkir balik kalau Allah belum menghendaki, tidak akan ada yang berubah.

Tetaplah meghargai orang yang lagi berusaha, bersyukur dan menyadari bahwa semua kita dapatkan adalah bentuk kemurahan Allah.
Kerja keras, berhasil tapi semua hanya pinjaman. Sukses semoga tidak menjadikan kita lupa apa yang kita miliki hanya titipan. Semakin banyak yang dititip semakin besar pula pertanggunjawabannya.

Kamis, 31 Maret 2016

Mantra

     Kokok ayam sahut menyahut menyambut sinar surya. Aku masih larut dalam lantunan zikir pagi, bermunajat pada Allah pemilik waktu. Mukena kesayang berwarna hijau membalut tubuh dan Al-qur'an di tangan kanan. Menikmati zikir demi zikir, meresapkannya kedalam jiwa yang kerontang. Ala bizikrillahi tatma innul qulub, ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. Zikir pagi menjadi pelindung hingga petang dari yang tampak maupun kasat mata. Hanya zikir yang menentramkan hati ketikan gulana mendera. Menanti sosok yang selalu menghiasi mimpi-mimpi. Wahai kau yang entah di mana kini temui aku di kehidupan nyata. Takkah kau lelah bertandang dalam bunga tidurku.

       Di sela doa kusisip namamu, kuadukan rindu yang kian hari kian menyiksa. Meratap pada Ilahi Rabbi, jika ini memang cinta biarlah ia datang pada waktu. Jika ini hanya nafsu, hapuskan ia dari ingatanku.

"Adinsa." Seseorang memanggil namaku.

Gadis berjilbab biru, tepat berdiri dibelakangku kini mengambil posisi duduk

disamping menatap lamat-lamat.

"Cinta sejati akan menemuimu, dan jika ia tidak datang menemui jelaslah bahwa ia bukan cinta sejatimu."

Mantra

      Apakah aku harus berlari meninggalkan semua ini, berlari mengejar mimpi, melepaskan masa lalu. Cinta tidak berbicara soal logika, ada rasa yang terkadang tak mampu di ungkap dengan kata. Waktu terus bergulir, dedaunan jatuh berguguran, musim penghujan telah berganti musim kemarau, lihatlah aku masih saja setia menunggu di tempat pertama kali kita bertemu. Musim kemarau dan debu berterbangan menyapu jalanan, pepohonan dan semua yang di laluinya. Aku masih bersama perasaan lima tahun lalu.  Duhai kau yang entah di mana kini, bukan hanya aku yang menunggu. Debu, angin dan gunung-gunung di lembah kita pun menanti. Kapan kau kan menemui kami dengan seyum ramah dan tutur katamu yang indah. Ribuan pria kutemui di luar sana, tak ada yang seelok sikapmu, tak ada sesantun katamu. 

       Lima tahun sudah kita berpisah, itu artinya ribuan hari kita tak pernah bersua. Lembah kita tak banyak berubah, pohon-pohon jarak masih patuh membenamkan akarnya di tanah gersang milik lembah kita. Apakah kau tak ingin menikmati kemarau di lembah ini dan merasakan panas di bawah terik matahari. Apakah kau tak rindu dengan suara gemericik air di sugai dan derasnya air terjun di lembah kita. Apakah kau tak ingin memandangi hamparan hijau tanaman padi dan gemerlap lampu di malam hari?

   Sejuta kata tersimpan dalam diam, tersembuyi dalam doa. Menghabiskan siang, bercengkrama dengan angin, menghabiskan malam menatap bulan dan bintang gemintang.  Meski kita terpisah jarak dan waktu, namun  kita tetap berada di bawah langit di atas tanah yang sama dan memandangi bulan yang sama

Pria Idaman, Pria yang Beriman

Pertanyaan Adinsa gadis berjilbab abu-abu, membuat Kak Teti terdiam, kedua kakinya berhenti menginjak pedal mesin jahit.
"Maksudnya? Pria yang rajin shalat, rajin mengaji, tapi kalau urusan rezeki dia berdalih rezeki Allah yang atur. Kakak tidak mengerti, memang ada yang seperti itu?"

Adinsa tersenyum, memandangi kak Teti dengan raut muka masih terlihat kebingungan. "Maksud aku, pria yang rajin ke mesjid, tapi kalau kerja untuk memenuhi kebutuhan anak istri, pasrah aja. Waktunya di habisin untuk shalat, nganji berdiam diri di rumah dan di mesjid."

Kak Teti mengela nafas, mencoba mencerna kata-kata Adinsa, " Kak Teti tahunya pria beriman itu adalah mereka yang memiliki  pemahaman agama yang baik, nggak berat sebelah. Imbang antara dunia dan akhirat. Pria yang rajin shalat, puasa, ngaji zakat pastilah ia bertanggung jawab pada anak dan istrinya."

"Sendainya ada yang seperti itu kakak pilih yang mana?"
Kak Teti menarik nafas panjang, memperbaiki letak jilbab ungu yang ia kenakan.  Berbalik badan, duduk tepat di depan Adinsa.

"Kakak tidak akan memilih kedua-duanya, karena bagi kakak pemahaman agama yang baik adalah modal utama dalam sebuah pernikahan. Keimanan tidak bisa dibeli dengan harta sebanyak apapun. Ketakwaan kunci kebahagiaan dunia dan akhirat, bagaimana mungkin sakinah ada dalam rumah tangga jika tidak ada kepatuhan kepada-Nya."

"Tapikan bisa saja ada yang seperti itu." Adinsa menyela.

"Bagi kakak pria idaman pria yang beriman." Jawab kak Teti mantap.

"Bisa saja kan kak." Adinsa tidak menyerah, ia belum puas dengan jawaban kak Teti.

Kak Teti membalikkan badan, kembali menginjakkan kakinya di atas pedal mesin jahit. Ia mengayunkan kaki, suara mesin jahit terdengar. "Kamu kenapa Adinsa? Jangan-jangan?" Kak Teti balik bertanya.

"Jangan-jangan apa?" Wajah tirus Adinsa terlihat penasaran.

"Yah, Jangan-jangan, jangan-jangan."

"Apaan sih?" Adinsa mulai kesal.

"SMS yang semalam itu," kak Teti menaha tawa.

"SMS apa?"

Selasa, 29 Maret 2016

Pria Idaman, Pria yang beriman

Sore itu, ketika matahari perlahan membenamkan diri di ufuk barat. Bersembuyi di balik gunung, tampak cahaya keemasan sang surya masih menyinari lembah Sigi. Lembah yang tak seindah dulu lagi rupanya. Debu berterbangan dan hamparan pohon jarak tumbuh di atas tanah-tanah gersang.

Sementara petang kan beranjak, dua anak manusia, asik bercengkrama di depan mesin jahit dan tumpukan kain. Satu, dua sisa potongan kain berserak di lantai.

"Pria yang mampu menjadi imam dalam keluarga, siapa yang tidak menginginkannya," kak Teti membuka pembicaraan. "Dia yang bertanggung jawab, bekerja keras membimbing anak dan istrinya untuk memahami ilmu agama," lanjutnya.

"Pria yang memiliki pemahaman agama yang baik serta pengamalannyaa yang baik pula." Sambung gadis, yang mengenakan jilbab besar berwarna abu-abu.

Suara mesin jahit menyatu dengan percakapan mereka. Sesekali gadis berjilbab abu-abu menggerutu, kesal karena benang putus.

"Kak Teti pilih yang mana?" gadis berjilbab abu-abu mengajukan pertanyaan. "Pria pekerja keras, bertanggung jawab, memenuhi kebutuhan anak dan istri tetapi tidak shalat atau pria yang rajin halat, mengaji, puasa sering berkumpul di mesjid tetapi untuk urusan kebutuhan anak dan istri dia berdalih rezeki Allah yang atur."

Bersambung...